WIB
Follow Us: Facebook twitter

Luka Sang Bunga (habis)

Minggu, 28 Juli 2013 // ,
Sore itu aku diajak pergi oleh Tio, Zahid, dan Hilda. Mereka mengajakku untuk menonton film. Aku meng-iyakan karena aku pun suka film, apalagi film-film luar negeri yang bergenre action. Yang pasti lagi aku tidak lupa mengajak Dhika, karena ia pun suka film action. Sebelum pergi, aku sempat meminta izin kepada Tio, Zahid, dan Hilda untuk mengajak teman sekelasku yaitu Dara dan Lucy. Mereka pun mengizinkan. Setelah aku menghubungi dua orang teman sekelasku, ternyata hanya Dara yang bisa ikut. Sore ini Lucy pergi ke rumahnya untuk acara syukuran atas rumah baru keluarganya.
                Bertemulah kami berenam di sebuah tempat makan di mall. Sebelum kami membeli tiket, kami memang memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Prinsipnya supaya kita tidak perlu membeli popcorn dan minuman di dalam bioskop. Ya itu adalah prinsip dari Dhika. Entah kenapa yang lain menyetujui prinsip itu. Benar-benar menghemat, karena makanan dan minuman di dalam bioskop harganya sangat mahal.
                Usai makan, kami langsung pergi menuju bioskop. Disana aku bertemu dengan Riza. Kali ini dan untuk pertama kalinya aku melihat dia sedang jalan bersama seorang perempuan. Mungkin itu pacarnya. Dan itu membuatku patah hati. Sekali lagi, aku bertemu dengannya dan hanya saling melontarkan senyum. Sedangkan Dara, ia terkejut melihat Riza dan mulai terlihat badmood. Ternyata Dara sedikit sensitif.

                Sepanjang film diputar, fikiranku tak sedikit pun mengarah ke film. Di benakku masih teringat akan perempuan yang dirangkul Riza tadi. Dalam hati aku penasaran, ingin bertanya tapi bingung mau bertanya pada siapa. Satu kampus, satu fakultas, jurusan yang berdekatan bukan berarti kita dengan mudah mengenal satu sama lain. Semuanya tergantung konsep takdir yang diberikan Tuhan. Buktinya kita berenam yang sore ini menghabiskan waktu di bioskop dengan film action pilihan kami.
                Malam tiba, masih saja aku memikirkan perempuan yang bersama Riza. Rencananya aku ingin mencurahkan via Blog. Tapi apadaya, aku terlalu lelah sehingga begitu sampai di rumah, aku langsung tertidur.
                Sekitar pukul tiga pagi aku terbangun. Terbangun karena mimpi. Mimpi yang diisi oleh aku, Riza, perempuan itu dan Tio. Aneh. Sungguh aneh. Dalam mimpi itu aku menjadi pacar Tio, sedangkan Riza adalah pacar dari perempuan itu. Tapi di balik semua itu ternyata Tio bermain api dengan perempuan yang bersama Riza dan pada akhirnya aku menangis karena merasa dikhianati oleh Tio. Tangisan itulah yang membuatku terbangun.
Astaghfirullah mimpi apaan sih gue? Aneh banget. Kalau gue mau merasa sedih mah sama Riza, yang jelas-jelas tadi sore bikin gue patah hati. Kok malah Tio? Gue sama Tio kan sama sekali gak punya hubungan apa-apa. Huh. Dan Riza? Haduh beneran kepikiran sama yang tadi sore gue liat. Beneran deh gue  jatuh cinta sama Riza. Hmmm
                Aku pergi ke dapur mengambil segelas air putih untuk menenangkanku. Lalu aku mengambil handphone dan pergi ke ruang tamu. Aku yakin bahwa aku tidak akan tertidur lagi. Jadi, aku memutuskan mengambil beberapa makanan di kulkas dan menonton televisi.
                Aku melihat handphoneku, ternyata ada tujuh kali panggilan tak terjawab yang ketujuhnya itu adalah panggilan dari Dhika. Mungkin ia ingin berbagi cerita denganku, seperti biasanya. Tapi aku heran, ia tidak pernah sekali pun membahas tentang perempuan yang ia suka. Mungkin ia tidak suka perempuan, atau apalah terserah Dhika.
                Lalu aku melihat ada kiriman sms dari Zahid dan satu nomor tak dikenal. Zahid memang mengajakku untuk sms-an. Tapi sayang aku tertidur ketika jam sepuluh ia mengirim sms itu. Tapi nomor tak dikenal itu?
                Pesan yang disampaikan sulit dipahami maksudnya. Sangat tersirat . Sampai detik ini masih bingung apa maksudnya. Pesan itu berisi “Tajam, bercahaya, mempesona.Akankah hilang setelah hari ini?”. Sampai keesokan harinya aku tidak menghapus pesan itu. Aku berusaha bertanya ke teman-teman yang ku kenal di kampus. Mereka tidak mengetahuinya. Apakah dia seorang secret admirer?
***                                                                                               
“Eh eh semalem pas gue insom, gue browsing tuh tentang Drift Car. Keren banget deh” ucapku penuh rasa kagum.
“Lu baru tau kalau Drift Car itu emang keren? Lu gak tau disini ada pembalapnya?” kata Zahid.
“Wah?” aku terkejut, “siapa?”
“Nih si Tio” Zahid menunjuk.
“Wah hebat Tio. Boleh dong sesekali gue ngeliat lu nge-Drift?”
“Boleh banget, Deb. Itu juga kalau lu suka. Dateng aja setiap malam minggu gue suka nge-Drift sama komunitas gue. Malam minggu ini gue ada chalange lawan komunitas Drift Car lainnya. Nanti deh gue sms ke elu tempatnya. Biar lu dateng.”
“Oke.” Mungkin mimpi itu merujuk kesini kali ya? Gue bisa deket sama Tio karena Drift Car nya. Gimana ya? Ya lanjutin aja deh.
                Hari ini banyak kelas yang harus aku hadiri. Padahal Dhika mengajakku makan bareng di satu tempat yang sudah satu bulan lalu ia janjikan. Tapi acara itu sepertinya harus ditunda sampai besok. Sedikit menyesal, tapi memang itu keputusannya.
                Suasana di kelas terakhir ini sangat hening. Beberapa mahasiswa sudah lelah karena seharian mengikuti pelajaran, ada juga yang memang memperhatikan Pak Orion menyampaikan materi, tapi aku melamuni Orionku yang dulu.
                Setiap kali masuk pelajaran Pak Orion, yang paling sering masuk fikiranku adalah Orion-ku. Orion yang pernah mengisi hatiku. Ia pergi ke luar negeri setelah aku meninggalkannya dengan memilih SMA yang berbeda dengan Orion. Entah kemana ia pergi hingga aku merindukannya saat ini. Lamunanku terpecah ketika aku merasakan ingin buang air kecil. Aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, sendiri.
                Kamar mandi itu letaknya setelah kelas yang sedang diikuti oleh Riza. Ketika aku melewati pintu kelasnya, aku melihat ia serius dengan materi yang sedang diajarkan padanya. Dan aku tetap fokus ke kamar mandi.
                Setelah selesai, aku berjalan kembali ke kelas. Belum sampai di depan kelas Riza, aku menabrak seorang lelaki. Lelaki yang sejak awal bertemu sudah aku kagumi.
“Bruuk”
“Eh sorry sorry” ucapku panik.
“Iya iya ngga papa kok.”
                Suara itu, suara yang sudah lama aku tunggu. Suara itu memang menggetarkan hati ini yang sudah lama mengaguminya. Akhirnya aku mendengar suaranya, setelah beberapa bulan hanya melihat senyumnya.
“Lu nggak kenapa-kenapa kan?” tanya orang itu.
“Ngga kok, Riz.”
“Kok lu tau nama gue?”
“Eh… hmm… ia gue tau. Riza kan?”
“Iya, gue juga tau nama lu. Flowerista Debbyanita Harrison. Ya kan?”
“Kok tau? Lengkap pula? Kan kita belum kenalan.”
“Iya sih. Emang kita belum kenalan. Tapi kita udah saling kenal kan?”
“Iya. Eh sorry nih gue lagi ngikutin kelas, sorry gak bisa lama-lama. Gue pergi dulu ya.” Aku berlari kembali menuju kelas.
                Tanganku dingin, wajahku memucat. Benar ! Keringat membasahi wajahku. Kerudung ini pun basah karena ketetesan air keringat dari pipi. Aku senang, terlihat jelas di wajahku dan bibirku yang sejak kembali dari kamar mandi tadi tertarik karena bawaan perasaan. Habis aku senang karena suaranya yang serak-serak basah menggoda pikiranku. Sampai malam pukul sebelas aku masih memikirkan Riza. Kacau !
***
                Mungkin menunggu adalah hal yang menyebalkan bagi sebagian atau mungkin semua orang yang hidup di dunia ini. Bosan adalah efek dari menunggu yang kelamaan. Kalau sudah bosan, mood yang baik bisa berbalik 360 derajat. Kalau mood sudah seperti itu, bangku pun bisa jadi alat pelampiasan. Dan menelpon adalah solusi untuk menghentikan menunggu. Namun, ketika yang ditunggu datang, maka hal pertama yang akan dilakukan adalah melempar bangku ke arah orang yang ditunggu.
“Eiiitt eiiiit” menghindar dari lemparan bangku, “Deb please Deb, jangan lempar tuh bangku. Gue gak sengaja ini telat. Mobil gue bannya bocor tadi. Jadi gue nambel dulu.”
“LALU KENAPA TELPON GUE GAK DIANGKAT CUMIIIIII?”
“Waduh? Dimana lagi handphone gue?” mencari ke kantong celana, “wah Deb gue gak bawa.”
“ALESAN LO DHIKOOOOONG” menaruh kembali bangku ke tempat semula, “Yauda cepet anter gue ke tempatnya Tio. Gue mau nonton Premier Drift Car dalam hidup gue nih.”
“Iya tuan putri. Ayo jalan.”
                Sepanjang jalan menuju lokasi chalange, aku tidak ada berhentinya memarahi Dhika yang telat menjemputku. Dia ketakutan, bahkan setiap detik dia meminta maaf. Sejak dulu SMA, Dhika memang terkenal sangat berhati-hati dengan perasaan perempuan. Ia sangat takut aku marah padanya. Hingga ia berjanji untuk mengajakku menonton fil Twillight Saga Breaking Down Part II di PIM. Dan disitulah aku mulai lunak dan tidak meluapkan emosi lagi.
                Sesampainya di tempat Tio, aku begitu kagum mendengar dan melihat mobil-mobil keren yang sedang asik berfantasi di jalurnya. Aku tak berhenti tepuk tangan karena kagum. Benar-benar berasa lebih luar biasa dari pada yang ku lihat di internet.
“TIO, INI BENER-BENER LUAR BIASA. GUE SUKA BANGET” ucapku berteriak. Karena tanpa teriak, suara tidak akan terdengar.
“LO RASAIN SENSASINYA, DEB. MAU LEBIH ASIK LAGI? IKUTAN DI DALEM MOBIL ITU.”
“AH GUE GAK BERANI. NYALI GUE MASIH RAGU BUAT NAIK MOBIL ITU.”
“YA MAKA DARI ITU, LU KUMPULIN DULU NYALI LU DENGAN SERING DATENG KE TEMPAT BEGINIAN.”
“KALAU GUE DIKASIH INFONYA MAH GUE MAU.”
“GAMPANG ITU MAH.”
“TAPI DEBBY, LU KAN BERKERUDUNG. GAK MERASA ANEH SENDIRI?” Dhiko menyelak.
“IYA SIH, RADA ANEH. TAPI KAN GUE GAK MUNGKIN BUKA KERUDUNG JUGA, DHIKOOONG.”
“JANGAN MANGGIL GUE DHIKOONG!”
“HAHAHA DHIKONG, DHIKA SI ENGKONG-ENGKONG.”
“PULANG SENDIRI LU!”
“YA JANGAN DONG.”
“JANGAN MANGGIL GUE DHIKONG!”
“IYAAAA CUMIIIII.”
“YAUDA GUE MAU AMBIL START ABIS INI. LU LIAT YAH!”
“OKE.” Jawab gue dan Dhika bersamaan.
                Kami melihat Tio sedang mengambil start. Dia dengan mobil berwarna hijau tosca yang menawan itu dengan desain yang juga lumayan membuat mobil itu terasa gagah. Di sampingnya, ada mobil berwarna putih polos tanpa hiasan apapun dan terlihat sangat bersih. Aku jatuh cinta dengan mobil itu. Memang sedari dulu aku senang dengan benda-benda berwarna putih susu dan bersih. Nampak bahwa yang punya adalah orang yang rajin, rapih, dan cinta kebersihan. Sama dengan aku dan si putih.
                Aku penasaran dengan orang yang berada dalam mobil itu. Apakah orang itu memiliki ciri yang aku sebutkan tadi. Jika iya, mungkin saja aku dapat jatuh cinta dengan pemiliknya pula.
                Hanya membutuhkan waktu yang singkat untuk menyelesaikan chalange antara Tio dan si pemilik mobil putih itu. Dan chalange itu dimenangkan oleh orang yang mengendarai mobil putih itu. Memang hebat. Mobilnya nampak cantik dan pengendaranya pun hebat. Siapa dia? Aku menunggu sang pengendara itu turun dari mobilnya. Karena aku ingin melihat wajahnya. Namun, ia tidak sama sekali keluar dari mobil cantiknya itu. Ia bergegas pergi meninggalkan arena. Mobil itu lewat depanku, dan tepat di depanku mobil itu pun berhenti. Hanya sebentar, mungkin sepuluh sampai dua puluh detik. Dan pengendaranya pun melihat ke arahku dari dalam mobilnya. Seakan ia memberi tanda. Tangannya pun menunjuk ke arah belakang kerumunan penonton. Dan aku segera mengikutinya, tanpa Tio dan Dhiko.
                Di satu tempat yang berlatar keramaian tetapi tdak seramai di track Drift Car itu, aku menemui pengendara mobil cantik itu. Ia keluar dari mobilnya. Aku terkejut dan sangat tidak menyangka.
“Riza?”
“Iya. Gue Riza.”
Aku terdiam karena sangat tidak menyangka apa yang ada dihadapanku.
“Kenapa? Lu kagum yah? Gue udah lama nge-drift gini. Yaa semenjaak…” dia terdiam.
“Semenjak apa?”
“Ya pokoknya begitulah. Lu suka mobil gue?”
“Suka banget. Oh iya, kenapa elu tadi gak turun dulu gitu buat berjabat tangan sama Tio?”
“Engga kenapa-kenapa kok. Gue mau langsung ketemu lu aja. Oh iya, ikut gue yuk. Gue mau ngajak lu makan. Gimana? Ada tempat roti bakar yang enak banget daerah sini. Lu pasti suka?”
“Tapi…” terfikirkan Dhiko yang masih asik menonton, “gue disini sama temen gue. Gimana? Tapi lu juga gak bakal bikin gue celaka kan?”
“Engga lah. Gue ini masih anak baik-baik kok. Lu tau kan gue gak ngerokok?”
Aku kembali terdiam karena kaget, “emang pernah gue bilang ke elu kalau elu pasti gak ngerokok?”
“Ya orang-orang pasti akan berfikir seperti itu kalau liat gue. Gimana? Mau gak?”
“Gue bilang sama temen gue dulu ya.”
“Oke. Gue tunggu disini. Di dalem mobil yah. Lu pasti pengen naik mobil cantik ini. Ya kan?”
“Dasar pembaca fikiran!”
                Aku pergi menghampiri Tio dan Dhika. Aku bilang pada mereka bahwa aku ingin pergi bersama seorang teman kuliah. Ku suruh mereka untuk pulang sendiri. Dhiko nampak khawatir dengan alasan aku yang pergi dengan tidak jelas. Pasti dalam pikirannya, aku adalah tanggung jawab dia malam ini. Sepantasnya aku kembali ke rumah bersama Dhiko. Tapi, aku tetap memutuskan untuk pergi bersama Riza dan menelpon Ibu bahwa aku pergi bersama teman kampusku yang lain. Lalu aku pergi bersama orang yang aku kagumi dan aku impikan itu. Tidak disangka.
               
                Hallo Holla J
Hari yang gak pernah terencana di pikiranku. Tapi yang pasti ini rencana Tuhan. Malam ini indah banget taaaauuuu. Bulan sama bintang tuh lagi bahagia banget ngeliat gue yang malam ini asik dengan hal baru dalam hidup gue. Apa si ituuuu?
NUMBER ONE : gue ngerasain sensasi ada di arena Drift Car. Asoooooy luar biasa banget. Lebih dari video-video yang gue tonton di internet.
NUMBER TWO : lo tau gaaaaaaaaaaaakk siiiii? Hari ini gue jalan sama RIZA ! wooowww aku bertemu dirinya di suatu tempat *Riza bilang gak boleh dibocorin ke siapa-siapa tentang pertemuan itu*. Di acara yang keren bangeeet *lagi-lagi Riza gak ngebolehin gue rokes* okeee begitu lah. Waaahh awal yang baik nih antara gue sama Riza. Hahaha THANKS GOD
Hayo hayo kira-kira gue bakal tidur gaak nih malem? Yang pasti gue akan tidur, secara capek banget woi  haha biar  aja senengnya dilanjutin di mimpi, ye gaaak?
Tapi tapi tapi…. Lagi lagi gue keingetan sama ORION. ORION WHRE’RE YOOOOUUUU OHAIMISYU *katrok* PLEASE CALL ME ORION IF YOU READ THIS POST L
TAMAT

Luka Sang Bunga (bag 3)

Minggu, 21 Juli 2013 // ,
“Permisi, Pak. Saya mau cari buku sastra Indonesia, ada di bagian mana ya?”
“Di barisan E, neng. Dari sini eneng jalan lurus terus ke kiri.”
“Oke. Terima kasih yah, Pak.”
“Jangan manggil saya ‘Pak’. Mahasiswa disini biasa manggil saya Mang Endang.”
“Oh, oke deh Mang Endang yang kece” aku tertawa kecil menggodanya.
“Iya deh, Eneng?”
“Panggil saya Debby ya Mang.”
“Oh ya neng Debby, isi buku tamunya.”
“Hmm Mang, manggilnya jangan pakai eneng. Ya udah aku isi ya Mang.” “Terima kasih nih Mang.” Aku berjalan mengikuti arahan yang diberikan Mang Endang tadi.
Nah! Ketemu deh bagian Sastra Indonesia. Liat koleksinya dulu deh.
                Tak lama aku melihat-lihat koleksi di rak bagian atas, datang seorang lelaki berkulit hitam bercirikhas keturunan Arab.
“Hai! Suka baca buku Sastra juga” ucapnya mengagetkanku.
“Eh” aku menjatuhkan beberapa buku, “sorry sorry.”
“Nggak papa, santai aja. Sini gue bantu.”
“Thanks nih. Haduh gue kaget pas elu dateng.”
“Iya gue minta maaf juga ngagetin elu” merapihkan buku yang berjatuhan.
“Oh iya, gue Flo…” menggelengkana kepala, “sorry, gue Debby.”
“Oke. Gue Zahid. Mahasiswa Fakultas Ilmu Ekonomi.”
“Kalau gue dari Ilmu Komunikasi. Jurusan Public Relation.”
“Hm… Aneh yah kita bukan dari jurusan Bahasa, tapi ada di perpustakaan Bahasa.”
“Ya nggak salah sih. Tohh kalau kita suka sastra kenapa engga? Oh iya, lu dari Ilmu Ekonomi? Temen SMA gue ada tuh yang masuk situ. Lu kenal gak namanya Dhika. Muhammad Rodhika Lukmana.”
“Oh si anak petakilan itu.”
“Petakilan? Waduh baru seminggu kuliah disini tuh anak udah terkenal petakilannya. Emang sih sejak gue sekelas sama dia waktu SMA, gue sering banget ngomelin dia karena dia itu nggak bisa diem. Kadang suka gue cubitin. Tapi sebenernya dia itu baik dan pinter. Omongannya juga mantep buat jadi penasehat pribadi. Tapi yaa tingkahnya yang gak bisa diem itu yang nyebelin. Dulu sih dia juara kelas. Eh sorry nih, kok gue jadi ngebahas si Dhika deh?”
“Wah kayaknya lu tau banyak yah tentang Dhika. Dia mantan lu ya?”
“Hah?” aku terkejut, dengan terbata-bata aku menjawab “Engga kok. Kenapa kita jadi ngomongin hal yang gak seharusnya kita omongin sebagai perkenalan yah?”
“Ya bagus, Deb. Tandanya kan kita emang mudah nyambung.”
“Iya sih. Oh iya, duduk yuk.”
                Aku berbincang dengannya lebih jauh. Mengenal satu sama lain. Yang pasti masih masa-masa perkenalan. Handphone ku bergetar menandakan ada telepon masuk. Aku meminta izin pada Zahid untuk menjawab telepon itu dan aku segera mancari tempat yang pas untuk menjawab telepon.

“Halo. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Lu dimana, Flo?”
“Gue di perpustakaan Bahasa.”
“Gue mau ketemu lu dong.”
“Yauda lu kesini aja.”
“Gak mau. Ketemu di kantin aja ya. Sekarang.”
“Iya iya.” Aku kembali pada Zahid.
“Sorry nih, gue mau ke kantin dulu. Lu mau ikut?”
“Buku lu?” menunjukan buku yang ku ambil dari rak.
“Bawa aja deh, gue mau pinjem. Lu mau ikut gak?”
“Boleh.”
Kami berjalan menuju meja Mang Endang, aku mencatat beberapa hal yang harus ku catat karena aku meminjam buku ini.
“Terima kasih ya Mang Endang.”
“Iya neng. Eh Debby maksud saya.” Lalu kami berlanjut ke kantin.
                Di sepanjang jalan menuju kantin, aku dan Zahid tidak melanjutkan mengobrol. Zahid asik dengan handphonenya dan aku sibuk dengan jalan cepatku. Sesekali aku menoleh ke arah Zahid, memperhatikan apa yang ia lakukan. Sepertinya ia sedang mengajak temannya menuju kantin juga. Mungkin teman satu fakultas atau teman sekolahnya dulu. Sampai di kantin aku kembali menelpon manusia yang sedang merepotkanku itu. Ternyata ia telah duduk dan memesan bakso yang katanya enak di kantin kampus ini.
“Heh. Kenapa manggil gue? Nyuruh gue kesini segala lagi. Gue kan lagi asik baca buku sastra ini” menunjukan buku yang aku pinjam tadi.
“Eh… lu kan temen kelas gue deh” menyapa Zahid.
“Lah… Dhika? Oh jadi elu yang ganggu obrolan gue sama Debby di perpustakaan tadi.”
“Wiiihhh tadinya maksud gue mau ngajak Debby kesini, gue mau kenalin Debby ke elu, Hid. Kan kalian sama-sama suka sastra tuh. Pasti nyambung.”
“Ah alesan lu, bang! Lu nyuruh gue kesini kan karena lu kangen sama gue. Ya kan?”
“Kok tau si Neng?”
“Waduh Abang-Eneng. Kayaknya gue disini malah ganggu kalian deh” selak Zahid.
“Engga lah. Kan tadi gue bilang, justru gue mau bikin kalian saling kenal. Tapi eh udah kenal duluan.”
“Oh iya, ada temen gue nih mau kesini. Mending kita gabung aja. Gimana?”
“Boleh banget” jawabku antusias.
“Boleh-boleh. Kan sekalian dapet temen baru. Cewek apa cowok, Hid?”
“Cowok” ia mulai terlihat sedang mencari orang.
“Yah cowok, menang si Debby deh. Kan kalau cewek bisa gue deketin.”
“Dasar otak penjahat. Pikiran lu gitu mulu bang sama gue.”
“Nah itu dia temen gue” ia menunjuk ke salah seorang lelaki yang baru saja menginjakan kaki di kantin.
                Aku dan Dhika menoleh ke arahnya. Aku melihat satu orang lelaki dan satu orang perempuan sedang berjalan menghampiri kami. Perempuan itu berkerudung, cantik, tinggi, dan berkulit putih. Sedangkan yang lelaki, ia tinggi, badannya terlihat kekar, aku yakin dia seorang atlet.
“Wooaaah… Udah punya gebetan baru nih” ledek Zahid kepada dua orang itu.
“Iya dong. Emang elu, gangguin orang berduaan di kantin.”
“Engga kok. Emang dari tadi kita bertiga” aku menyelak.
“Engga lah. Yang bener itu gue ganggu si Zahid sama Debby di perpustakaan” sahut Dhika.
“Ya sudah. Yang penting kita harus kenalan dulu. Kan tak kenal maka tak sayang” ucap lelaki itu semakin membuat suasana nyaman dan bersahabat, “gue Tio.”
“Gue Dhika” ia menjabat tangan Tio, “kalau ini eneng gue, namanya Debby. Tapi maksudnya eneng itu cuma panggilan teman aja loh.”
“Hay gue Debby.”
“Gue Tio, dan yang ini Hilda. Kalian bisa kenalan masing-masing.”
                Kami melanjutkan perbincangan ini ke arah yang lebih akrab. Dhika dengan kebaikannya menraktir kita semua. Suasana semakin lunak setelah kami memang saling berbagi informasi satu sama lain. Pada konsepnya, semua pertemanan yang berlanjut ini berawal dari teman ke teman. Aku berteman dengan Dhika sejak SMA, Dhika berteman dengan Zahid karena satu jurusan, Zahid berteman dengan Tio karena dulunya mereka satu SMP dan janjian masuk ke Perguruan Tinggi yang sama, sedangkan Hilda adalah teman sekelas Tio. Saling berhubungan bukan? Memang pertemanan ini yang saling menguntungkan. Namun, aku masih tetap berharap ada benang yang menghubungkan aku dengan Riza, mahasiswa yang sedari awal masuk sudah menjadi gebetan. 
Bersambung...

Luka Sang Bunga (bag 2)

Selasa, 16 Juli 2013 // ,

Bunyi alarm itu terdengar sangat bersemangat. Entah apa yang membuat suara itu terasa seperti semangat pagi yang luar biasa. Mungkin saja karena sudah dua bulan aku tidak mengaktifkan alarm tersebut. Jadi, ketika alarm itu berbunyi lagi terdengar sangat bersemangat. Memang hebat, alarm yang berbunyi hanya sekali saja dapat membangunkan aku dari tidur lelapku malam ini.
Sabtu, 12 September.
Hari pertama aku masuk kuliah. Rasanya senang sekali. Setelah lima bulan berdiam diri tanpa rutinitas yang tetap. Kini aku memulainya di tempat yang berbeda, suasana yang berbeda, semangat yang berbeda, dan yang pasti sebutan yang berbeda.
“Ciee… Mahasiswa nih ye” kata Ibu meledekku yang sedang sarapan roti, pagi itu.
“Ih apa sih Ibu?” jawabku tersipu malu.
“Kenapa masih pakai baju putih abu-abu?”
“Oyah ?” aku melihat diriku, “ya Allah. Beneran salah kostum.”
“Ya sudah sana ganti baju yang keren dulu.”
“Oke” berjalan menuju kamar dan segera mengganti baju.
“Naaaah udah bener kan, Bu?”
“Udah. Keren kok, tapi sayang, masih aja keliatan kayak anak SMA.”
“Berarti Flower keliatan masih muda dong?”
“Emang kamu masih muda, Flo. Kalau Ibu, baru sudah tua.”
Aku tersenyum, “iya emang Ibu udah tua. Kan udah punya anak perempuan yang jadi mahasiswa.”
“Flower. Ini motor kamu udah siap. Inget yah hati-hati!” selak Ayah yang baru saja selesai memanaskan mesin motorku.
Aku keluar dan melihat kendaraan yang baru dua minggu parkir di rumah kecil ini.
“Terima kasih Ayaaaaah” aku mencium pipinya.
“Tumben kamu cium pipi Ayah. Udah 10 tahun kayaknya kamu nggak pernah cium pipi Ayah.”
“Ah masa sih, Yah? Selama itukah?”
“Kayaknya sih gitu” lalu ia mengambil beberapa lembar kertas di saku celananya, “nih uang bensinnya” memberikan beberapa lembar kertas itu.
“Nggak usah, Yah. Flower masih punya uang hasil dari ikut kuis beberapa minggu yang lalu. Emang Flower sengaja menyisakan uang itu buat jajan pertama si Putih.”
Putih adalah sebutan untuk motor baruku. Sengaja aku memberikan satu julukan pada motor ini. Karena aku yakin, motor inilah saksi bisu perjalanan aku di kampus.
“Oke. Ya udah, sekarang udah jam setengah tujuh. Cepat jalan!”
“Baik, Ayah” aku mengambil tas dan memakai sepatu yang juga baru aku beli seminggu yang lalu.
                Sejak pengumuman penerimaan mahasiswa baru, aku, Ibuku dan juga Eyang sibuk dengan segala perihal yang dapat membuatku keren ketika kuliah nanti. Mulai dari terwujudnya janji Eyang dengan si Putih, lalu Ibu yang sibuk membelikan aku sepatu dan baju-baju yang pantas dipakai ketika ke kampus. Kalau aku ? Aku hanya mempersiapkan mental supaya tidak pingsan ketika hari pertama kuliah.
                Setelah aku selesai dengan tali di sepatuku, aku bergegas pergi dan yang pasti meminta restu kedua orang tuaku.
                Si putih membawaku dengan asiknya menuju kampus impian. Suasana pagi yang segar dengan udara yang masih sejuk dan wajib dihirup sepuas-puasnya, karena satu atau dua jam lagi udara ini akan lenyap. Dengan jaket yang tebal, penutup mulut, sarung tangan, serta helm yang disiapkan oleh Ibu untuk melindungiku menuju kampus impian.
                Satu jam perjalanan dari rumahku menuju kampus ku lewati dengan nyanyian-nyanyian penyemangatku. Begitu senang rasanya. Melewati pintu masuk kampus itu rasanya seperti masuk ke pintu rumah yang di dalamnya berisikan keluarga yang harmonis. Menyenangkan.
                Segera ku parkirkan si putih di tempat yang menurutku strategis dan aman. Aku berjalan dengan rasa percaya diri yang luar biasa menuju Fakultas Ilmu Komunikasi. Di koridor yang lumayan panjang yang baru beberapa langkah ku telusuri. Aku melihat seorang lelaki yang dari gayanya memang sangat keren dan terlihat berasal dari keluarga yang berada.
Gile tuh cowok ganteng banget. Gaya nya keren. Tajir nih orang. Anak mana yah? Satu fakultas kah sama gue? Mudah-mudahan lah

                Ketika kami berpapasan, kami memang saling melontar senyum. Senyumnya indah. Terukir proporsional di pipinya yang berisi, hidungnya yang mancung, matanya yang sedikit terlihat sipit karena mungkin semalam ia begadang, bibirnya yang sexy berwarna merah dan menandakan bahwa ia bukanlah perokok. Mungkin inilah cinta pada pandangan pertama. Di hari pertama kuliah, di awal semester satu, membuat hari ini semakin istimewa.
                Dengan segera aku menyimpan lelaki itu dalam pikiran khusuku dan aku melanjutkan mencari kelas yang harus aku ikuti di awal ini. Ku temukan. Lalu aku masuk ke ruangan yang bersuhu lumayan dingin karena pendingin ruangan. Aku mencari tempat duduk yang berada di barisan kedua dari meja dosen. Aku merapihkan dandananku ketika aku sudah duduk manis di bangku. Aku melihat dua orang perempuan yang duduk di depanku. Gaya mereka santai, sepertinya juga mereka memang sudah kenal sejak lama. Dengan rasa percaya diri yang ku punya sejak alarm itu menyemangatiku, aku mengajak mereka berkenalan.
“Hai” kata pertama yang keluar dari mulutku untuk menarik perhatian mereka. Kabar baik, mereka merespon dengan menengok dan menjawab sapaanku.
“Hai juga” jawab mereka kompak.
“Wah kompak. Pasti udah lama kenal deh, jadi udah nyambung.”
“Iya. Memang kita nih udah dari SMP bareng” jawab perempuan berambut pendek, berponi depan, jujur saja di pikiranku perempuan ini pasti suka dijulukin seperti Dora.
“Oh iya, nama gue Lucy.Alucia Devanina” ucap perempuan yang satunya lagi.
“Hai Lucy! Nama gue Flowerista Debbyanita Harrison. Kalian bisa panggil gue Flo…” aku diam, “panggil gue Debby.”
“Oke. Kalau gue Dara” ia menjabat tanganku, “gue emm maksud gue itu kita” menunjuk dirinya dan Lucy, “iya, kita memang dari SMP bareng, dan kita berdua dari SMA Kartini.”
“Oh kalian dari SMA Kartini?” tanyaku antusias.
“Iya, lu tau?” tanya Lucy.
“Tau, dulu sepupu gue sekolah disana.”
“Oh begitu” kata Lucy yang dipotong dengan ajakan Dara. “Sorry ya, Deb. Kita mau ke kantin dulu. Tadi rencananya mau beli minuman. Lu mau ikut?”
“Hm… Boleh” dan kami bangkit dari tempat duduk kami.
                Dalam perjalanan pendek menuju kantin, aku melihat lelaki yang tadi pagi ku lihat. Kali ini ia sedang berjalan dengan dua orang temannya. Dari gelagatnya, mereka baru saling mengenal. Terlihat lelaki itu canggung dan jarang mengobrol dengan dua orang lainnya. Sama seperti aku, Lucy, dan Dara. Kembali ketika kami berpapasan, kami tak saling menyapa, hanya melontarkan senyum. Untuk beberapa detik mata kami melakukan kontak, tidak hanya senyum. Aku ingin mengenalnya, mengetahui siapa namanya, dari SMA mana, nomor handphonenya berapa, dia tinggal dimana, dan…
“Eh, Lucy. Si Riza emang cakep banget yah. Gue denger-denger dia dari SMA Negeri gitu di Jakarta Selatan. Liat aja gayanya, keren banget gitu. Kayaknya sih dari sekolah favorit gitu. Terus juga gue kemarin pas selesai OSPEK liat dia di PIM. Dia jalan sama orang tuanya gitu sih kayaknya. Perfect banget yah” oceh Dara mengagumi seseorang yang bernama Riza.
“Siapa Riza?” aku menyela dan sedikit penasaran.
“Itu yang barusan lewat samping kita. Cowok keren itu.”
Aku menoleh ke belakang mengarah pada lelaki yang sudah dua kali memberikanku senyuman indahnya, “oh itu namanya Riza. Dari fakultas mana?”
“Fakultas Ilmu Komunikasi dong. Kan dia dari tadi juga bolak-balik di koridor ini. Cuma dia beda jurusan sama kita. Dia jurusan Broadcasting” jawab Dara dengan pengetahuannya tentang lelaki itu.
Oh namanya Riza, anak Broadcast lagi. Wow… coba aja waktu itu gue milihnya Broadcasting, bukan Public Relation. Pasti gue bisa lebih deket sama dia. Tapi tetep lah kita juga satu fakultas, pasti juga nggak susah ketemu. Dan si Dara ini, tau banget deh tentang Riza. Jangan-jangan dia juga jatuh cinta pada pandangan pertama nih. Waahh hari pertama langsung punya saingan. Kayaknya mah dia juga lebih agresif deh. Yaah kalah deh gue. Tapi… harus semangat. Demi senyumnya itu loooh.
“Deb. Deb. Kok lu bengong?” tegur Lucy.
“Ha?” aku menatapnya bingung “nggak kok nggak, ayo cepet ke kantin. Nanti telat lagi masuk kelas.”
***
                Hai para pembaca The Flower’s Garden.
Salam semangat di hari pertama masuk kuliah yah (itu buat gue). Hari ini gue dapet dua teman baru, setelah selama tiga hari masa OSPEK gue terpelosok dalam rasa malu. Huh. Mereka orang-orang hebat. Namanya Alucia Devanina. Cantik, ramah (itu penilaian pertama gue sama nih orang). Dan yang satunya lagi Dara, entah nama lengkapnya siapa. Yang pasti orang ini bawle, suka ngomong, cantik seperti Dora di Dora The Explorer (ups sorry Dara).
Satu lagi nih teman. Waktu jalan di koridor gue berpapasan dan senyum-senyuman sama cowok Broadcast yang gayanya kece banget. Nama nya Riza loooh J  Nama lengkapnya gue gak tau ah, gue belum kenalan lebih lanjut. Yang pasti nih cowok udah memikat hati gue di hari pertama ini. Hehehe oke deh sedikit aja dulu yang gue share tentang kuliah gue.
Oh iya. Hari ini gue ketemu dosen yang sangat baiiiik sekali. Ganteng pula. Jomblo pula. Pinter pula. Masih muda pula.yaa kayak nya sih belum ada umur 30 tuh dosen. Tau gak namanya siapaaaa? Namanya Orion. Nama mantan gue waktu SMP. Wow… jangan-jangan dia Orion gue. Haha gak mungkin ah. Secara dia lebih tua jauh dari gue. Sedangkan Orion kan cuma 1 tahun di atas gue.
Hmm… ngomongin Orion, apa kabar yaa first love gue? MISS YOU ORION. CALL ME yaaa di twitter gue L (itu kalau lu baca postingan gue yang ini)
Nice. Great. Luar Biasa. Istimewa. Bersemangat. Mengesankan. BYE :p

Luka Sang Bunga (bag.1)

Selasa, 09 Juli 2013 // ,
http://lh3.googleusercontent.com/-m_2XmpJyeXg/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAxw/mbLZrfq0V50/s512-c/photo.jpg
Oleh : Syarifah Mudarsih


Dipermainkan perasaan oleh seorang cowok itu memang menyakitkan. Apalagi masuk dalam golongan tragedi yang sering disebut ‘tarik ulur’. Seseorang yang mengalami hal tersebut pasti akan mengalami masa-masa yang paling menyebalkan dalam kehidupan labilnya. Namun, siapa yang tahu tentang apa yang terjadi setelah kejadian itu ? Kita tidak akan pernah tau, seperti yang ku alami saat ini.

Rasanya ingin aku lompat dari ketinggian 1000 meter, lompat tanpa parasit atau benda apapun yang dapat membuatku mendarat dengan baik dan sempurna. Ingin aku muncul di surat kabar dengan judul yang besar “DEPRESI DALAM HAL PERCINTAAN, SEORANG GADIS LOMPAT DARI KETINGGIAN 1000 METER”. Tapi aku ingat dengan orang-orang di sekitarku, keluargaku, teman-temanku yang masih sayang denganku dan tetap menginginkan aku hadir di dunia ini bersama mereka. Dan pada akhirnya aku hanya mampu duduk di balkon depan kamarku dengan memegang sehelai kertas foto di tangan kiri dan korek gas di tangan kanan.

Air mata pun tak henti keluar dari mata sipit ini, melewati setiap lengkungan pipiku, membasahinya hingga tanganku pun tak sanggup lagi membantu menghapusnya. Memandang penuh kenangan yang ada dalam foto itu. Ya, itu adalah salah satu kenangan terindah. Seseorang yang ada dalam foto itulah yang membuat aku seperti ini. Ini bukan pertama kalinya aku menangisi hal seperti ini, bahkan mungkin ini juga bukan yang terakhir kalinya aku akan menangisi hal tersebut. “Ya Tuhan..kenapa semua ini terjadi ? Jujur aku belum sanggup .” Dan tangisanku pun tak kunjung berhenti dan justru semakin menjadi. Semua hal yang aku alami dalam setahun ini memang benar-benar menyakitkan.
***

14 Februari
Siapa yang tidak tahu mengenai hari ini ? Mereka menyebutnya hari kasih sayang. Untuk tahun ini aku merayakan hari itu dengan teman-teman akrabku di kampus. Aku merayakannya bersama Hilda Sukmawati, Reyna Hanifazrianita, Alucia Devanina, Muhammad Rodikha Lukmana, Vanesco Tio, Roberto Albert Handoko, Ahmad Muzahid, dan yang pasti Arrizah Levano Hakim. Kami telah merencanakan hari ini sejak tahun baru kemarin. Jadwalnya adalah di rumah Riza, karena sudah satu minggu terakhir ini rumah Riza tak berpenghuni. Kedua orang tuanya sedang dinas ke luar negeri,sedangkan Riza sering sekali menginap di rumah Tio. Selain itu, memang keluarga Riza sama sekali tidak menggunakan jasa pembantu rumah tangga.

Dia dilahirkan sebagai orang kaya. Ayahnya seorang yang pekerja keras, sehingga keluarga Riza mampu mengalahkan kekayaan teman-temanku yang lainnya. Ibu nya yang ramah, cantik, dan muslimah selalu menjadi kebanggaan anaknya ketika kami berbincang mengenai keluarga.
Hari ini kami berpesta barbeque. Kami sudah membeli semua keperluan tadi siang sepulang dari kampus. Kami semua siap untuk berpesta hingga pagi karena besok tidak ada mata kuliah yang kami kunjungi. So.. It’s free time for us. But not for me.

Kami kuliah di satu universitas swasta ternama di kota kami. Katanya universitas ini terpandang juga di Negeri ini, mengalahkan beberapa Universitas lainnya di beberapa aspek yang dimiliki universitas ini. Kami berbeda fakultas dan berbeda jurusan, hanya beberapa yang sama. Maka dari itu banyak orang yang heran atas keakraban kami. Aku, Riza, dan Lucy satu jurusan, sedangkan yang lainnya berbeda jurusan, bahkan fakultasnya pun berbeda. Kami kenal satu sama lain karena hubungan pendek yang terjadi di kampus ini, di suatu hari ketika semester dua dulu.

Hal yang membuat kami bahagia ketika berpesta di malam hari adalah ketika keesokan harinya kami tidak memiliki mata kuliah yang harus dikunjungi. Dan pesta malam ini selalu ku harapkan menjadi satu malam terindah.

Dua bulan belakangan ini, tepatnya setelah malam tahun baru, aku mengalami masa pendekatan dengan Riza. Aku memang sudah mengaguminya sejak semester dua. Dan baru kali ini aku dekat dengannya melebihi batas pertemanan. Tiap malam ia selalu menghubungiku, mengirimiku pesan singkat,yang pasti dengan subjek yang sama. Dengan pertanyaan awal yang sama, jujur saja aku merasa bosan. Tetapi ada satu hal yang dapat menghilangkan rasa bosan itu. Yaitu ketika ia mulai membahas tentang kehidupan pribadinya. Bahkan ia sempat membahas mengenai perasaanku kepada lawan jenis yang ada di sekitarku. Aku curiga atas sikapnya belakangan ini. Apa mungin ia suka padaku ? Sejauh ini ia belum mengungkapkan perasaan apapun padaku. Dan aku pun belum berusaha untuk memancingnya membahas hal itu.

Malam ini terasa berbeda. Dia mulai memperhatikanku dengan pandangan yang tak seperti biasanya. Riza selalu mencari perhatianku, menggodaku dengan macam-macam gayanya, dan akupun tak akan meninggalkan kesempatan ini. Kami berbincang di pinggir kolam renang miliknya. Hanya berdua, karena temanku yang lainnya sedang asik di taman belakang rumah Riza. Suasana hening itu mulai terpecahkan dengan percikan air yang ku mainkan dengan kedua kakiku.
“Suasananya asik yah, Deb ?” tanyanya.
“Iya. Asik. Menyenangkan lah lumayan.” Aku tersenyum kecil.
“Apalagi jika kita mengungkapkan suatu perasaan kita”
Oh Tuhan apa yang dia maksud ? Apakah ia akan mengungkapkan perasaannya padaku ? Apakah ia akan bilang cinta padaku? Buat aku tenang Tuhan. “Maksud kamu apa Riz ?”

Dia merubah pandangannya hingga tepat menghadapku. Tangannya yang kekar menyentuh kedua sisi lenganku. Jantungku berdegub sangat kencang, keringat itu pun mulai mengalir dari kepala. Wajahku dan wajahnya semakin mendekat. Oh tidak ! Apa yang akan kami lakukan ?
“Aku jatuh cinta sama kamu, Deb.” Aku tersedak mendengarnya dan memecahkan suasana. Dan aku menggeserkan badanku lalu menghadap ke arah yang lain. “Aku suka sama kamu Deb. Apa kamu bisa menerima hal itu ?”
Aku terdiam dan kembali memainkan kakiku di kolam itu.
“Kamu gak suka yah ? Kamu marah ? Maaf jika hal itu membuatmu marah. Aku gak ngerti kenapa aku bisa merasakan hal itu. Maafin aku, Debby.”
“Bingung, aku hanya bingung.” Jawabku gugup.
“Kenapa bingung? Mungkin memang kita tidak pernah membahas ini. Tapi ... Ya sudah aku minta maaf.”
“Bukan begitu.” Aku kembali menghadapnya. “Kenapa kamu bisa suka sama aku ? Padahal waktu itu kamu sempat marah banget sama aku ketika kamu tau kalau aku suka sama kamu. Kamu bilang ini merusak pertemanan kita.”
“Aku juga gak ngerti kenapa bisa begini. Mungkin karena aku mulai nyaman ketika dekat sama kamu.”
“Riza, jujur deh, aku tuh seneng kamu bicara seperti itu. Hanya saja aku tidak habis fikir.” Aku diam sejenak. “Lagi pula kita mana tau kapan kita dapat mengatur perasaan yang selalu datang dengan sendirinya. Jadi apakah kita akan mulai berpacaran malam ini ?” wajahku berharap cemas.
“Tidak.” Singkat dan tegas. “Aku belum memutuskan apakah aku akan memacarimu malam ini. Aku rasa ini masih sekedar suka, belum cinta. Dan yang pasti itu bukan saatnya kita berpacaran. Tapi aku mohon, buat aku semakin suka hingga aku cinta sama kamu Debby.” Ucapnya santai.

Aku menatap penuh. Oh Tuhan, makhluk bodoh apa aku ini ? Masih bertahan saja aku duduk depan orang yang paling sadis dan tak bernurani ini. Apakah diri ini sudah buta oleh cintanya ? Sehingga aku tak mampu beranjak. Masa bodoh ! Omongannya memang tak pernah bisa dipercaya. Sedari dulu, sejak ia memacari teman baikku dulu.

Aku beranjak dan memutuskan untuk meninggalkannya. Tetapi ia mencegah dengan menarik tangan kananku. Aku merasakan genggamannya yang kuat mampu membuat hatiku semakin bergetar dan air mata ini pun mulai menunjukan kelemahannya.
“Mau kemana ?” tanyanya.
“Pulang !”
“Kenapa ?”
“Kamu fikir aku ini apa ? Memangnya di mata kamu, perempuan itu apa sih ? Seenaknya saja kamu memperlakukan aku seperti itu !”
“Hey Deb ! Ini semua simple. Mudah saja, aku hanya ingin kamu membuat aku semakin cinta. Agar semua ini dapat berakhir bahagia. Sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kamu dan aku pasti bisa bersatu, aku hanya ingin kesungguhan kamu. Tidak akan ada seorang pun yang tersakiti.”
“Omong kosong! Semua itu tidak menjamin kamu akan membuat aku tersenyum. Itu menyakitkan, Riza.” Aku memulai berjalan pergi.
“Dasar perempuan !” Ucapnya dengan nada rendah. Aku membalik badan , jelas aku masih dapat mendengar kata-kata itu. “Aku bersungguh-sungguh membuka hati untukmu, Debby!” suaranya lantang.
Aku menghampiri teman-temanku di taman dan mengambil barang-barangku yang berada di ayunan.
“Debby, mau kemana ?” tanya salah seorang teman baikku, Lucy.
“Kembali ke kos. Tante Hani tidak akan membiarkan pagarnya terbuka sampai jam 11.”
“Tapi ini baru jam 10.” sahut Zahid.
“Aku butuh waktu di perjalanan. Belum lagi jika sudah tidak ada taksi.”
“Ya Tuhan, Debby. Kayak baru kenal kita saja deh. Kita akan mengantarmu pulang sebelum jam 11. Dan Tante Hani tidak akan mengunci pagarnya untukmu.” lanjut Lucy.
“Sorry I can’t guys. Kita bisa lanjutkan ini di laptopku. Tenang saja. Kita semua akan have fun bersama kok.” Aku pergi. Berselang beberapa detik, Riza sampai di tamannya.
“Apa yang kamu lakukan pada Debby ?” tanya Tio.
“Sayaaaaang.. mungkin dia mengecup bibirnya tak sehangat bibirmu. Sehingga Debby pergi dan tidak menikmatinya.” ucap Reyna yang dalam keadaan setengah sadar atas minuman beralkohol yang sedari tadi ditenggaknya.

Reyna adalah satu-satunya temanku yang paling berani melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran dengan pacarnya. Memang gaya pacaran yang dilakukan Reyna dan Tio adalah gaya pacaran yang dianggap gaul oleh anak muda zaman sekarang. Bahkan mereka sudah melakukan hubungan sex lebih dari sekali mungkin.
“Memang seperti apa bibir hangatku ini ?” tanya Tio yang semakin memancing birahi pacarnya itu.
Riza menyelak, “Sudah ! Tidak perlu kita bahas itu semua. Mengganggu saja. Bersenang-senanglah. Toh Debby akan menyambung pesta ini lewat video call kan ?” lalu Riza pergi ke dapurnya untuk mengambil beberapa botol air mineral.
Di perjalanan pulang, aku hanya terdiam dan membayangkan setiap kata yang keluar dari bibir cowok berengsek itu. Terasa menyakitkan hingga aku meneteskan air mata. Sesampainya di rumah kos, aku melihat Tante Hani sedang asik bermain dengan pasangan kencannya. Biasa, jatah minggu ini adalah anak dari Tante Ida, pemilik rumah gedong di samping rumah kos ini.
“Permisi Tante” kata ku lembut.
“Hay Debby, bagaimana malam valentine kamu? Apakah kamu mendapatkan ciuman menakjubkan dari Riza ?”
“Tidak Tante. Tidak sekarang !” dan aku masuk ke kamarku.
Aku membuka laptopku, dan aku mulai log in ke Yahoo Messangerku.
“Ayoo Williaaam, temani aku malam ini.” ucapku seraya mengutak-atik laptop kesayanganku itu.

Debbybbed : Hello William, Happy Valentine day, Dear ..
Will_Morgan : Nice baby. Happy Valentine day too. How about your day ? I think that is the bad ending day. Right ?
Debbybbed : Yeaah, you are right. Do you remember about Riza ?
Will_Morgan : Yup, exactly. What happened with you and him ?
Debbybbed : He try to kiss me tonight. And he say to me if he loved me. But not really love. He want me to make him more love me.
Will_Morgan : That’s your mind. If he isn’t seriouswith you ?

Debbybbed : Exactly, what must I do ? I want him to really loved me. More than now.
Will_Morgan : I think, you must make him to more loves you. REMEMBER ! before he will got by other girl. Take your chance quickly.
Debbybed : Are you sure ? Ok, what time is it now in your area ?
Will_Morgan : Yeaaah , now at 3 p.m. I just finished my studied.
Debbybbed : Ok. Thanks for your solution, I want to take a rest now. Bye Honey J

Aku pergi dan langsung beralih ke video call. Mencoba berhubungan dengan orang-orang yang berada di lokasi pesta malam ini. Aku menyambungkan video call ini dengan Reyna. Di suatu ruangan yang terlihat gelap dan tidak nampak keadaan yang ada.
“Reyna !”
“Iya Debby, aku lagi di dalam rumah Riza. Akan aku antar telepon ini ke yang lain. Tunggu yah.” Jawab Reyna dengan kesibukannya saat itu. Ia mulai bergerak ke arah taman dan memberikan telepon genggamnya kepada kawanku yang lainnya.
“Oh syukur kalian masih disana.”
“Hey Debby, kau ganggu permainanku.” teriak Reyna dari kejauhan.
“Apa yang dia katakan ?”
“Kamu mengganggunya dengan Tio.” jawab Dika.
“Keterlaluan ! Lalu sedang apa kalian ?” tanyaku.
“Kami bersantai, bersenang-senang, menikmati malam, memandangi bintang, tertawa, bercumbu, berciuman, bernyanyi, bahkan merenung seperti yang dilakukan Riza sejak 15 menit yang lalu.” seraya menyorotkan kepada setiap aktivitas.

Mendengar keterangan yang terakhir itu aku terdiam dan sempat melamun untuk beberapa detik. Lalu disadarkanlah aku dengan suara dari video call itu.
Kami melakukan aktivitas itu hingga jarum jam di kamarku menunjukan waktu 01.00. Malam semakin larut, suasana di kos ini pun sudah senyap dari suara Home Theater yang sedari aku pulang tadi meyala. Dan semua orang mulai terlelap dalam malamnya. Hanya aku dan Lucy yang bertahan membuka mata. Jujur saja, mataku pun sudah mulai sayup dan tidak tertahan lagi rasa kantuk itu. Sehingga aku memutuskan untuk menghentikan video call ini dan mulai mengistirahatkan seluruh organ tubuhku.


***BERSAMBUNG***
MENU KANAL

Copyright © 2013 All rights reserved - Designed by Kadral hadi Kembali Ke Atas